![]() |
|||
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
|
|
![]() |
|
|
|
|
![]() |
|
|
|
|
![]() |
|
||||||
|
Sudah sejak beberapa bulan terakhir wajah Erwin Tenggono selalu cerah. Maklumlah, direktur pengelola perusahaan distribusi farmasi PT Anugrah Argon Medica (AAM) ini mulai memetik hasil investasi teknologi informasi (TI)-nya. Lihat saja, nyaris seluruh tolok ukur kinerja bisnisAAM Bersinar terang. Biaya usaha menurun, tetapi tingkat pelayanan membaik, kepuasan pelanggan meningkat, dan omzet melonjak. “Beberapa waktu terakhir, bisnis kami naik sampai Rp300 miliar,” ungkapnya, bangga. Prestasi AAM ini mengejutkan. Dalam kondisi sulit seperti sekarang, bisnis mereka justru bergerak lincah dan berhasil menyabet dua penghargaan dalam ajang Indonesia E-Company Award 2006, yang didukung penuh oleh XL Business Solution. Apa saja? Terbaik I untuk kategori Distribusi, Ritel & Logistik, serta penghargaan khusus Terbaik dalam IT Performance Improvement. Erwin menuturkan salah satu resepnya terletak pada pemanfaatan TI guna meningkatkan pelayanan dan membaca ceruk pasar. Ia mengakui, dengan manajemen informasi yang makin baik, aktivitas distribusi menjadi lebih efektif. Mereka bisa mengontrol stok lebih efisien sehingga mengurangi modal kerja. Aktivitas distribusi produk bisa tepat sasaran sesuai target pasar. AAM memang agresif dalam investasi TI. Jutaan dolar AS mereka kucurkan untuk membenahi infrastruktur TI-nya serta mengadopsi berbagai aplikasi solusi terbaru. Sistem Enterprise Resources Planning (ERP), misalnya, mereka terapkan sebagai pondasi dasar pengembangan TI. Supaya komplet, mereka menerapkan pula berbagai sistem aplikasi, seperti Customer Relationship Management (CRM) dan Business Intelligence. Di sinilah inovasi menjadi faktor penting. Inovasi tak perlu rumit, yang penting bisa menjawab kebutuhan bisnisnya. Salah satu contohnya adalah membangun sistem aplikasi warehouse yang terhubung online dengan prinsipal. Mereka memberikan informasi pasar secara gratis kepada prinsipalnya. Jadi, pihak prinsipal bisa memantau dinamika produknya setiap saat, baik mengenai stok di distributor, penetrasi produk, tingkat penjualan, maupun pangsa pasar per produk atau per wilayah. “Cara ini menciptakan transparansi dan meningkatkan kepercayaan prinsipal,” ujar Erwin. Ini menarik. Kendati terkesan sederhana, inovasi ini berdampak signifikan. Selama ini prinsipal cenderung melihat potret pasar hanya berdasarkan total nilai penjualan, jenis produk, dan unit barang. Mereka tak melihat sampai kanal-kanal penjualan, seperti rumah sakit, apotek, atau toko obat. Nah, dengan layanan ini, distributor dan prinsipal mempunyai cara pandang yang seragam terhadap data. Ini membantu prinsipal membangun strategi untuk mengantisipasi dinamika pasar di masa depan. Hasil Riset Inovasi TI tentu bukan monopoli AAM Dengan kadar berbeda, inovasi TI dicapai oleh sejumlah perusahaan lain. Hasil riset Warta Ekonomi terhadap 120 perusahaan membuktikan adanya korelasi positif antara inovasi TI dan peningkatan kinerja bisnis. Perusahaan dengan tata kelola TI (IT Governance) yang baik dan inovatif cenderung lebih berhasil membangun bisnisnya. Paling tidak mereka lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan pasar. Riset ini memang tak secara khusus menempatkan inovasi sebagai satu-satunya variabel pengukuran. Riset ini secara umum berbicara tentang potret pendayagunaan TI di berbagai perusahaan. Kendati begitu, hasilnya cukup mengejutkan. Lebih dari separo (57,5%) responden membuktikan inovasi TI-nya memberikan nilai tambah bisnis secara langsung. Sisanya, 17,5% belum berhasil mendapatkan. Dan, celakanya, 25% responden ternyata hanya berkutat pada penambahan perangkat keras. (Baca, “Potret Itu Tak Lagi Buram”) Pada akhirnya, peran TI kian strategis. Selain memberikan nilai tambah, TI menjadi faktor pendukung bisnis utama. “Saat ini teknologi diharapkan bukan hanya sebagai business supporting guna meningkatkan daya saing, tetapi sudah menjadi strategi integral perusahaan,” ujar Suryo Suwidnjo, country manager enterprise systems group & channels PT IBM Indonesia. Suryo benar. Satu dasawarsa terakhir, TI berkembang begitu pesat. Perusahaan berlomba dalam inovasi TI untuk meningkatkan bisnisnya. Alotnya persaingan dan kompleksnya tantangan bisnis mendorong perusahaan menciptakan nilai tambah secara simultan. Tak gampang, memang. Namun, seiring perkembangan, TI kian dipercaya sebagai alat bantu (tools) mencapai tujuan bisnis. Erwin percaya, agar penerapan TI memperoleh hasil yang maksimal, perlu ada kurva belajar (learning curve). Kurva ini mempermudah perusahaan membangun produk dan layanan inovatif. Ia mencatat perlu adanya manajemen berbasis kompetensi dan semua pengembangan harus bisa diukur secara jelas. Pasalnya, “Bicara TI itu bicara manajemen perubahan. Sebab, TI membawa banyak perubahan,” ujarnya. Pada perkembangannya, pemanfaatan TI memang menjadi prasyarat menuju best practice pengelolaan bisnis. TI menjadi standar baku penentu daya saing. Dalam hal ini, ada dua faktor enabler yang saling terkait. Pertama, inovasi produk, di mana proses merupakan hal krusial dalam menciptakan competitive advantage. Kedua, teknologi dan reorganisasi; keduanya adalah pasangan yang tak terpisahkan—teknologi tak dapat diterapkan tanpa reorganisasi, dan reorganisasi tidak akan efektif tanpa penerapan teknologi. Pentingnya inovasi TI juga ditegaskan survei The Economist Intelligence Unit (EIU). Survei yang melibatkan 500 eksekutif global ini menyimpulkan bahwa kecanggihan TI merupakan kekuatan paling penting yang mengubah pasar dunia. Namun, di sisi lain, riset itu juga mengungkapkan kegagalan berinovasi dianggap sebagai salah satu dari tiga risiko terbesar yang dihadapi dunia bisnis. Hasil riset itu mengatakan teknologi dan inovasi bersama-sama menghasilkan alur ide-ide baru yang mendorong pertumbuhan industri. Ke depan, TI bakal memegang peranan penting dalam mengelola operasional perusahaan yang makin kompleks dan mengglobal. Termasuk dalam hal ini, membantu perusahaan meningkatkan daya saing terhadap munculnya pesaing-pesaing baru. Semua eksekutif puncak tampaknya mengerti bahwa pasar makin kompetitif. Maka, menciptakan inovasi dianggap sebagai faktor yang sangat penting untuk dapat bertahan. “Saat ini mereka melihat TI sebagai salah satu kekuatan penting yang mengubah pasar global. Perusahaan bergantung pada TI untuk menghubungkan dan mengelola operasional global mereka,” kata Daniel Franklin, editorial director The EIU. Silver Bullet Nah, ketika banyak perusahaan sama-sama menggunakan best practice, bagaimana caranya bisa lebih unggul ketimbang kompetitornya? Kembali, kuncinya adalah sejauh mana perusahaan berinovasi. “TI bukan silver bullet,” ujar Julianto Sidarto, country managing director PT Accenture Indonesia. TI hanya tools. Jadi, penentuan arah dan tujuan bisnislah yang menjadi panglima. Itu artinya tergantung pada seberapa canggih para eksekutif puncak mendayagunakan inovasi TI untuk menciptakan terobosan. Pakar manajemen Rhenald Kasali melihat pendayagunaan TI sudah makin membaik. Kendati begitu, ia melihat perusahaan menghadapi risiko akibat pesatnya perkembangan TI. Akibatnya, kerap kali perusahaan ketinggalan dibanding kompetitornya, atau mereka berinvestasi TI, tetapi gagal menjadi nilai tambah. “Mereka harus selalu mencari celah-celah baru untuk berinovasi,” ujar Rhenald, direktur Program Magister Manajemen UI, yang juga menjadi juri pada Indonesia E-Company Award 2006. Membangun inovasi TI memang sulit. Sialnya, kebanyakan perusahaan tak menyadari bahwa mereka sebenarnya hanya mengikuti tren (mindless). Akibatnya, gampang ditebak, mereka gagal memperoleh nilai tambah optimum. Berbeda dengan organisasi bisnis yang melakukan inovasi TI secara mindful. Artinya, membangun inovasi TI benar-benar atas adanya kebutuhan dan kondisi perusahaan. Mereka membangun inovasi TI lebih menekankan pada aspek keselarasan dengan potret dan tujuan bisnis yang ingin dicapai. Namun, memang ada plus-minus dari dua konsep ini. Perusahaan yang melakukan inovasi dengan mindful harus berani berusaha dan mengucurkan biaya lebih tinggi. Namun, ini akan terbayar lewat hasil yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Sebaliknya, inovasi yang cenderung ikut-ikutan biasanya kurang efektif memberikan nilai lebih. Memang, biayanya juga tak begitu besar. Sidharta Sidik, chief information officer PT Charoen Pokphand Indonesia, mencatat adanya sejumlah kendala yang dihadapi perusahaan di Indonesia. Pertama, masalah biaya. Inovasi TI menyedot biaya cukup besar. Ini mengingat siklus produk TI relatif pendek. Setiap saat perusahaan harus meningkatkan kapasitas sistemnya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kedua, masih rendahnya kemampuan para eksekutif puncak menciptakan nilai tambah dari investasi TI. Ini penting, sebab, “Kalau bisnisnya tak benar-benar menggunakan, tentu saja percuma,” tandasnya. Pandangan seragam dilontarkan Julianto Sidarto. Menurut dia, TI membantu perusahaan mengenali kebutuhan pelanggannya. Mereka juga bisa meningkatkan layanan dengan biaya efisien. Apalagi, dewasa ini para eksekutif puncak dituntut lebih kreatif memanfaatkan informasi. Percuma punya inovasi TI kalau organisasi bisnisnya gagal memanfaatkannya. “Agar inovatif, perlu TI, infrastruktur, organisasi atau people, serta proses bisnis. Semua¬nya harus menjadi satu kesatuan,” ujar penggemar dansa ini. Salah satu faktor sukses dalam inovasi TI, lanjut Julianto, adalah faktor leadership. Ini menjadi tantangan sekaligus hambatan pada banyak perusahaan. Kerap, eksekutif puncak tak memiliki visi terhadap investasi TI-nya. Fakta lainnya, antara visi mereka dan tujuan investasi TI kerap tidak selaras. Jadi, para nakhoda harus lebih dulu menerjemahkan arah perusahaan yang ingin dicapai: mau menjadi low cost provider, customer service oriented, atau unggul dalam produk. Setelah itu, baru pilih solusi TI-nya. PRANANDA HERDIAWAN, HOUTMAND P. SARAGIH, IMAN HENDARTO, DAN KODRAT SETIAWAN |
||||||
|
|
all rights reserved, copying or
reproducing any material on this website |
|