|
Warta Ekonomi E-Government Awa Penerapan e-government dari para peserta ajang ini menapak setingkat lebih tinggi dengan masuk ke tahap transaksi. Hanya, banyak peserta masih gamang lantaran belum adanya payung hukum, yakni UU ITE. Namun, Kota Surabaya berani melakukan terobosan dengan menerapkan e-procurement secara utuh. Apa siasatnya?
Wali Kota Malang Peni Suparto dan Ketua DPRD-nya, Priyatmoko, tampak rukun. Rabu (3/10) sore itu keduanya kompak menangkis lontaran pertanyaan yang tajam dari dewan juri Warta Ekonomi E-Government Award 2007. “Apa sih fokus implementasi layanan e-government di Kota Malang?” tanya juri. Jawaban Peni dan Priyatmoko saling mendukung, melengkapi satu sama lain.
Aneh? Mungkin karena sebagian masyarakat telanjur terbiasa melihat fenomena di tingkat pusat. Di Jakarta, sangat biasa jika menteri dan DPR ribut untuk suatu perkara. Bahkan, beberapa kali DPR bersitegang dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kota Malang, yang menjadi pemenang ke-3 untuk tingkat kabupaten/kota pada ajang penghargaan kali ini, memang tampil beda.
Peni adalah satu dari beberapa petinggi kabupaten/kota yang mau meluangkan waktu untuk datang pada acara babak final Warta Ekonomi E-Government Award 2007, yang digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, 2–3 Oktober silam. Selama dua hari itu, sebanyak 17 finalis diundang untuk mengikuti babak final, yakni berupa tanya jawab dengan dewan juri.
Dari kalangan pemerintahan di daerah, selain Peni, hadir pula Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono dan Bupati Sragen Untung Wiyono. Kehadiran beberapa petinggi daerah itu, di mata Richardus Eko Indrajit, salah satu anggota dewan juri, menunjukkan antusiasme dan kesungguhan komitmen mereka dalam menerapkan e-government. Hebatnya lagi, menurut catatan Eko, para petinggi itu paham betul soal e-government dan mampu memaparkan bukti-bukti keberhasilan implementasinya di lembaganya masing-masing, bahkan dengan ukuran yang bersifat kuantitatif. Mereka juga tajam dalam mengungkapkan visi-misinya.
Lihatlah tangkisan Bambang Dwi Hartono. Pria kelahiran Tegal Ombo, 24 Juli 1961 itu dengan mantap adu argumentasi dengan dewan juri soal keyakinannya bahwa penerapan e-government bisa mengubah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi. “Kebijakan saya adalah bagaimana proses perizinan bisa dipermudah, dipercepat, dan dipermurah, tetapi dengan pengawasan yang ketat,” tandas Bambang.
Peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat juga menjadi kepedulian pemerintah daerah lainnya. Bahkan, guna mencari tahu tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan yang berbasis e-government, pihak Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta untuk tahun ini menggelar survei Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). “Hasil survei ini baru akan diketahui tahun depan. Sekarang sedang berjalan,” ungkap Achmad Djunaedi, kepala Badan Informasi Daerah Provinsi DI Yogyakarta.
Memasuki Tahap Transaksi
Satu hal yang menggembirakan, seluruh anggota dewan juri mencatat sebagian besar peserta sudah siap menerapkan e-procurement. “Saya melihat beberapa daerah mulai menerapkan e-procurement—meski penerapannya masih banyak masalah,” catat Budi Rahardjo, pakar telematika dan dosen ITB, Bandung, salah satu anggota juri. Rudjito, ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan yang menjadi anggota juri, menanggapi, “Ini menunjukkan para peserta mulai melangkah untuk menjadi lebih transparan.”
E-procurement adalah sistem pengadaan barang/jasa secara elektronik. Dengan sistem ini, tak ada lagi tatap muka yang membuka peluang terjadinya kongkalikong antara panitia pengadaan barang/jasa dan pihak pemasok. E-procurement, ungkap Agus Rahardjo, kepala Pusat Pengembangan Kebijakan Barang/Jasa Publik, Bappenas, diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengadaan barang/jasa, mencegah KKN, dan mewujudkan persaingan usaha yang sehat.
Catatan dewan juri soal e-procurement tadi membuktikan adanya langkah maju yang signifikan dalam penerapan e-government, yakni mulai masuk ke tahap ketiga: tahap transaksi. A.B. Susanto, juri lainnya yang juga managing partner The Jakarta Consulting Group, menilai temuan soal e-procurement inilah yang menjadi pembeda sangat signifikan dengan ajang Warta Ekonomi E-Government Award tahun sebelumnya. Pada 2006, Susanto kebetulan juga ikut menjadi juri.
Penerapan e-procurement secara sungguh-sungguh memang terbukti bisa menghemat anggaran belanja, sebagaimana diakui oleh sejumlah peserta dalam ajang penghargaan ini. Kota Yogyakarta, misalnya, meski baru memulainya dengan e-announcement—tahap paling awal dari e-procurement—ternyata sudah bisa menurunkan harga proyek sebesar 15%–20%. Haryadi Suyuti, wakil Wali Kota Yogyakarta, mengisahkan, dulu, sebelum menerapkan e-announcement, jumlah peserta tender hanya 3–4 perusahaan. Sudah begitu, perusahaan yang ikut juga yang itu-itu saja. Namun, berkat menerapkan e-announcement, kini peserta lelang bisa mencapai 12–16 perusahaan per proyek. “Dengan makin banyak peserta yang ikut, harganya pun menjadi makin kompetitif dan cenderung turun,” ujar Haryadi yang pernah bekerja sebagai direktur corporate finance dan government relations di PT HM Sampoerna Tbk. dan corporate secretary PT Indofarma Tbk. itu.
Hal serupa terjadi di Kota Bogor. Berkat penerapan semi-e-procurement, Ade Sunarya, kepala seksi Aplikasi bidang Telematika Kota Bogor, mengungkapkan pihak pemerintah kotanya mampu menghemat sekitar 10% dari total belanja barang/jasa yang senilai Rp240 miliar. Itu artinya senilai Rp24 miliar. Ini jumlah yang tidak sedikit jika mengingat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bogor yang cuma Rp60-an miliar.
Penerapan e-procurement yang paling menarik dilakukan oleh Kota Surabaya. Mereka tak lagi menerapkan semi-e-procurement, tetapi sudah e-procurement. Menurut Bambang Dwi Hartono, sang wali kota, pengadaan barang/jasa untuk pemerintah kota sudah sepenuhnya dilakukan dengan e-procurement, bukan semi lagi. Aplikasi e-procurement itu, yang dikenal dengan sebutan Surabaya e-Procurement System (SePS), bisa diakses melalui www.surabaya-eproc.or.id. SePS kini memiliki 3.000-an perusahaan yang terdaftar menjadi anggotanya.
Padahal, cerita Bambang, ketika instansinya mulai menerapkan e-procurement, banyak pengusaha yang menjadi anggota Kadin daerah atau Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) yang mengeluh. Mereka mengatakan sistemnya rumit, tidak mudah dipahami, dan keluhan sejenis lainnya. Untuk mengatasinya, pihak Pemkot Surabaya pun menyelenggarakan pelatihan bagi mereka. “Pelatihan itu kami yang membiayai. Itu semua kami lakukan demi meningkatkan efisiensi dan transparansi pelaksanaan anggaran di Kota Surabaya,” ujar Bambang.
Investasi yang dikeluarkan Pemkot Surabaya untuk mengembangkan sistem e-procurement sebenarnya terbilang murah, cuma Rp100–200 juta. Mereka mulai mengembangkan sistemnya sejak tahun 2003. Lalu, seberapa besar penghematan yang bisa mereka petik? Bambang mengungkapkan rata-rata penghematan anggaran belanja barang/jasanya bisa mencapai 15%-an. Nilainya, sampai Oktober 2007 sudah Rp70,3 miliar dari total nilai pengadaan barang/jasa yang Rp456 miliar.
Aplikasi e-procurement milik Pemkot Surabaya juga layak mendapat acungan jempol. Dari sisi keamanan (security), aplikasi itu sudah mendapat pengakuan berupa sertifikat ISO 27001:2005 tentang Security Management System.
Penerapan e-procurement tidak hanya berdampak pada penghematan anggaran, tetapi bisa pula memperbaiki tata kelola pemerintahan (good government governance). Ini diakui Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum (PU). “Kami menerapkan e-procurement agar pengadaan barang/jasa di Departemen PU bersih dari KKN. Ini karena antara penyedia jasa dan pejabat-pejabat di Departemen PU tidak ada kontak langsung,” ujarnya.
Selain Departemen PU, Bappenas juga secara khusus mengembangkan aplikasi pengadaan barang/jasa yang kelak menjadi standar nasional. Bekerja sama dengan USAID, yang menyalurkan dana dari Millennium Challenge Corporation (MCC), Bappenas mengembangkan portal HYPERLINK "http://www.pengadaannasional-bappenas.go.id/" www.pengadaannasional-bappenas.go.idHYPERLINK "http://www.surabaya-eproc.or.id/" sebagai tempat lelang barang/jasa secara nasional.
Ragu Melangkah
Sayangnya, meski banyak manfaat yang bisa dipetik dari aplikasi e-procurement, masih banyak instansi yang gamang menerapkannya. “Apa yang diterapkan oleh sejumlah instansi sebetulnya belum bisa disebut e-procurement, tetapi lebih pas disebut semi-e-procurement,” kata Agus Rahardjo. Keragu-raguan itu tak lepas dari belum adanya payung hukum, yakni UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yang melindungi tahap ketiga dari roadmap penerapan e-government tersebut.
Keluhan itu, misalnya, dilontarkan oleh kepala Badan Pengelola Data Elektronik (BPDE) Provinsi Jawa Timur, Trijono. Katanya, “Penerapan e-procurement masih menghadapi kendala ketiadaan payung hukum. Padahal, dalam aplikasi sistem e-lelang jatim, para peserta sudah bisa melakukan pendaftaran untuk ikut lelang secara online dan meng-upload dokumen lelang. Cuma, karena tidak adanya payung hukum, mereka tetap mengirimkan dokumen secara manual,” terang Trijono.
Kendala itu tak cuma mengganjal Provinsi Jawa Timur. Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Kabupaten Malang, Kota Malang, Departemen PU, Departemen Pertanian, dan lembaga pemerintah non-departemen lainnya yang tampil pada babak final Warta Ekonomi E-Government Award 2007, seperti Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Perpustakaan Nasional, dan Badan Pusat Statistik, pun mengeluhkan hal yang sama.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Sementara, ya menunggu. Ada kabar, Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bakal mempercepat upaya menggulirkan RUU ITE menjadi UU. Pihak Departemen Kominfo menargetkan hingga akhir tahun ini paling tidak DPR bakal mengesahkan RUU tersebut menjadi UU.
Maka, sambil menunggu datangnya UU ITE, Pemkot Yogyakarta melakukan sejumlah persiapan untuk mengimplementasikan e-procurement, yang rencananya direalisasikan pada 2008. Saat ini Pemkot Yogyakarta tengah menyusun nilai-nilai yang menjadi standar pengadaan barang/jasa untuk instansinya.
Jika sejumlah instansi merasa gamang, langkah Kota Surabaya lain lagi. Meski belum ada payung hukum untuk penerapan e-procurement, Wali Kota Bambang tak mau menunggu. Ia maju terus dengan menerapkan e-procurement untuk instansi yang dipimpinnya.
“Apa yang membuat Anda berani menerapkan e-procurement, padahal belum ada payung hukumnya?” tanya Rudjito.
Bambang menjawab, “Saya tidak punya niat buruk. Itu sebabnya saya berani melangkah. Biarlah waktu yang akan menjawab.”
Keberanian Bambang dan kesungguhannya menerapkan e-procurement memang menjadi catatan tersendiri bagi para juri. Itu sebabnya dalam ajang kali ini Kota Surabaya menyabet sejumlah penghargaan khusus untuk e-Procurement dan IT Leadership. Selain itu, atas keyakinannya bahwa penerapan e-government secara sungguh-sungguh bisa mengubah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi dan kualitas layanannya, Kota Surabaya merebut satu lagi penghargaan khusus untuk Public Services.
Keberanian Wali Kota sBambang memang patut dihargai. Namun, untuk mencegah kemungkinan terjadinya sengketa pada masa-masa mendatang, sudah sepantasnya kalau DPR segera mengesahkan RUU ITE menjadi UU, tanpa perlu harus melakukan studi banding dulu.###
HOUTMAND P. SARAGIH DAN SATRIANI ARI WULAN
|
|
|
Pemenang Warta Ekonomi E-Compa Dewan Juri menetapkan daftar nominasi yang layak diundang diskusi. Tahapan ini merupakan proses penting sebagai pertimbangan akhir menentukan pemenang terbaik. Setelah melalui proses diskusi yang sangat ketat, Dewan Juri akhirnya memutuskan nama-nama pemenang Warta Ekonomi E-Company Award 2007 sebagai berikut:
Kategori Consumer Goods
1. PT Bentoel Prima Tbk.
2. PT Wyeth Indonesia
3. PT Nestle Indonesia Tbk.
Kategori Non-Consumer Goods
1. PT Grundfos Pompa Indonesia
2. PT BASF Indonesia
3. PT Goldschmidt Sumi Asih
Kategori Perbankan
1. PT Bank Central Asia Tbk.
2. PT Bank Syariah Mandiri
3. PT Bank Niaga Tbk.
Kategori Asuransi
1. PT Asuransi Allianz Utama
2. PT Asuransi Sinar Mas
3. PT Asuransi Astra Buana
Kategori Lembaga Keuangan Lainnya
1. PT Samuel Sekuritas
2. PT Oto Multiartha
3. PT Dipo Star Finance
Kategori Distribusi, Logistik & Ritel
1. PT Cahaya Sakti Multi Intraco (Olympic)
2. PT Carrefour Indonesia
3. PT Lion Superindo
Kategori Pertambangan dan Energi
1. PT Aneka Tambang Tbk.
2. PT Indonesia Power
3. PT Perusahaan Tambang Bukit Asam Tbk.
Kategori Rumah Sakit
1. RS Anak & Bunda Harapan Kita
2. RS Atma Jaya
3. RS Pondok Indah
Di samping para pemenang tersebut, Dewan Juri juga memberikan penghargaan khusus kepada empat perusahaan. Mereka dinilai memiliki keunggulan pada salah satu kriteria penilaian.Empat perusahaan tersebut adalah:
1. PT Astra Agro Lestari Tbk. dan PT Inco Tbk. mendapatkan Special Achievement for Performance Improvement;
2. PT Vico Indonesia mendapatkan Special Achievement for Knowledge Development;
3. Citibank, N.A. mendapatkan Special Achievement for IT Innovation.
Kami mencatat dukungan positif dari perusahaan-perusahaan terhadap riset Warta Ekonomi E-Company Award 2007, baik dari sisi penyediaan data maupun terhadap proses penjurian. Kami akui riset ini masih mengandung sejumlah kekurangan, yang pada tahun-tahun mendatang akan terus kami perbaiki.
Sampai jumpa pada Warta Ekonomi E-Company Award 2008.
Moch. Arief Manajer Riset Warta Ekonomi
|
|
|
WartaEkonomi E-Company Award 2 Ritel & Distribusi Peringkat I PT Cahaya Sakti Multi Intraco
Perusahaan ini berhasil menerapkan sistem TI yang mengintegrasikan seluruh sumber dayanya. Hasilnya, mereka mampu memantau produk apa yang laku dan kinerja setiap cabangnya.
PT Cahaya Sakti Multi Intraco (CSMI), berdiri sejak 1983, merupakan distributor produk furnitur knocked-down yang berorientasi ekspor. Sudah lebih dari seratus negara yang mereka pasok. Menyadari ketatnya persaingan di bisnis ini, perseroan terus melakukan efisiensi melalui penerapan sistem TI untuk meningkatkan kinerja bisnis. "TI di perusahaan ini berfungsi untuk business improvement, meningkatkan daya saing, dan memberikan nilai tambah," terang Andy Setiawan, chief information officer CSMI.
Menyadari pentingnya sistem TI, perusahaan yang mendistribusikan produk-produk furnitur bermerek Olympic ini mengalokasikan 2,07% dari total anggaran biaya tahunan untuk belanja TI. Di CSMI, pemanfaatan TI bertujuan meningkatkan pendapatan melalui peningkatan produktivitas serta efisiensi distribusi dan biaya stok.
Selain itu, inovasi TI diharapkan bisa memastikan bahwa jasa dan infrastruktur masih mampu bertahan dan pulih jika sampai terjadi kegagalan akibat kesalahan sistem. "Ini untuk memastikan dampak bisnis paling minimum jika terjadi gangguan terhadap sistem TI," ungkap Andy. Untuk itulah perusahaan memiliki fungsi riset guna meninjau nilai efisiensi TI, lengkap beserta perbandingan hasil yang diperoleh dengan target yang ingin dicapai melalui penerapan TI.
Namun, efisiensi ini dirasa belum cukup. Perusahaan yang memfokuskan diri pada pemasaran dan layanan kepada konsumen ini memandang diperlukannya meningkatkan loyalitas pelanggan kepada produk Olympic. Untuk itu perseroan membangun database konsumen yang sangat berguna untuk merancang program loyalitas konsumen. Selain itu, untuk memaksimalkan pengelolaan sumber daya, perseroan juga mengintegrasikan seluruh proses bisnisnya lewat penerapan sistem Enterprise Resources Planning (ERP). Dengan terintegrasinya seluruh sumber daya ini secara online, termasuk sistem informasinya, perseroan mampu menciptakan sinergi secara utuh.
Aplikasi sistem TI ini ternyata berhasil memberikan manfaat positif bagi bisnis perusahaan. Berkat integrasi ini, tim pemasaran Olympic kini dapat melihat informasi hasil penjualan dan data pelanggan secara online. Dari data ini mereka bisa melihat tren pasar yang tengah dan bakal terjadi, serta melakukan sejumlah antisipasi.
Ke depan, investasi sistem TI ini diharapkan bisa membuat perencanaan perusahaan menjadi lebih terarah serta pengambilan keputusan yang lebih tepat dan cepat. Sistem informasi yang terpadu akan memudahkan manajemen membuat perencanaan penjualan dan distribusi produk menjadi lebih tepat sasaran, meningkatkan profit, serta menekan inventori. Hal ini sesuai target perusahaan yang pada 2008 akan mengembangkan infrastruktur bisnis dan kanal distribusi lainnya.
GLORIA HARAITO
***
Peringkat II PT Carrefour Indonesia
Peranti bagi Sang Raksasa
Meningkatkan daya saing jadi tujuan strategi investasi TI Carrefour. Mereka memiliki konsep e-learning sebagai pola baru pembelajaran dan peningkatan kemampuan karyawan.
Peritel kawakan ini memulai sejarahnya di Indonesia sejak Oktober 1998 dengan membuka gerai pertama di Cempaka Putih. Sejak itu pulalah aplikasi teknologi informasi mereka lakukan. Ada tiga fokus terhadap konsumen yang menjadi titik perhatian peritel asal Perancis ini, yakni harga bersaing, pilihan lengkap, dan layanan yang memuaskan.
Agus T.B. Lahama, country IT manager Carrefour, yakin melalui strategi TI-nya akan mempercepat proses pembuatan keputusan dalam bidang penjualan. "Tanpa TI, kami tidak dapat berkompetisi karena pemain ritel makin banyak," ungkap Agus. Saat ini, Carrefour Indonesia memiliki 30 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia dan didukung lebih dari 12.000 karyawan.
Sejak awal, manajemen Carrefour menyadari pentingnya perencanaan infrastruktur TI. Mereka secara berkala menganalisis perkembangan teknologi secara mendalam untuk mempermudah proses pemilihan peranti TI-nya. Perusahaan juga sudah memiliki program pelatihan TI untuk setiap karyawan. Penggunaan sistem TI terpusat terbukti mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional.
Meski enggan menyebut angka pasti, menurut Agus, perusahaan mengalokasikan 0,92% dari total anggaran untuk pengembangan TI. Target dari pemanfaatan TI di Carrefour, lanjutnya, agar perusahaan lebih tangkas merespons perubahan bisnis. "Dengan begitu, kami dapat menyesuaikannya dengan strategi bisnis dan optimasi penggunaan informasi yang dihasilkan sistem TI," ujarnya.
Saat ini jajaran manajemen Carrefour berhasil mengecap banyak manfaat dari investasi TI-nya. Penggunaan aplikasi Customer Relationship Management (CRM), contohnya, menciptakan cara baru berkomunikasi dengan pelanggan. Cara ini mengubah proses bisnis perusahaan, sehingga mendatangkan keunggulan kompetitif secara lebih cepat dan efisien. Carrefour juga menciptakan transparansi terhadap pemasok melalui laporan berbasis internet. Sementara itu, untuk mempercepat penyerapan TI, perusahaan menggiatkan e-learning melalui pelatihan dan otomatisasi program pendidikan. Pola pembelajaran seperti ini terbukti memberikan dampak signifikan bagi semua divisi perusahaan.
Lewat pemanfaatan TI, manajemen Carrefour optimistis dapat meningkatkan pendapatan dan pangsa pasar, serta optimalisasi penggunaan aset. Sistem TI yang andal dan terintegrasi, contohnya, sanggup melahirkan informasi yang berkualitas, sehingga mempermudah proses pengambilan keputusan. Jajaran direksi bisa lebih mudah menetapkan target peningkatan kinerja. "Kami menargetkan peningkatan pelayanan terhadap pelanggan, memprioritaskan otomatisasi dan integrasi melalui enterprise value chain, pemeliharaan proses bisnis, serta penurunan biaya operasional," tandas Agus.
GLORIA HARAITO
***
Peringkat III PT Lion Superindo
Akrab dengan TI sejak Awal Berdiri
Sejak awal berdiri, Lion Superindo sudah akrab dengan aplikasi TI. Hasilnya, mereka bukan cuma mampu bertahan semasa krisis, tetapi bisnisnya juga terus berkembang.
Lahir di masa krisis, Agustus 1997, perusahaan ritel Grup “The Lion” Delhaize, Belgia ini, mencoba untuk bertahan dan berkembang. Usaha keras mereka membuahkan hasil. Kini, dengan gerai yang tersebar di lima kota di Indonesia, mereka tak cuma mampu bertahan, tetapi juga berpacu mengejar target. Apa kunci sukses mereka? Jelas, memuaskan kebutuhan konsumen dan memudahkan mereka untuk berbelanja produk-produk berkualitas dengan harga yang ekonomis adalah mutlak.
Untuk melayani pelanggan, manajemen Lion superindo memandang pentingnya inovasi berbasis TI. “Tanpa TI, pekerjaan sehari-hari tidak akan berjalan,” ungkap Lany Budianto, direktur eksekutif Lion Superindo. Wajar saja, sebab nyaris semua bagian yang ada di Lion Sperindo saat ini membutuhkan dukungan TI. Salah satu bagian yang paling kritikal adalah aktivitas transaksi. Bagi mereka, TI sudah menjadi pendukung dan inovator di bisnis ritel.
Manajemen Lion Sperindo juga sudah menerapkan beragam aplikasi sistem TI untuk operasional bisnisnya. Empat tahun lalu mereka sudah menerapkan aplikasi executive dashboard untuk memudahkan manajemen mengontrol bisnis perusahaan. Sementara itu, sistem aplikasi lain, seperti merchandising, pemasaran, produksi, hingga SDM dan keuangan, sudah mereka aplikasikan sejak sepuluh tahun silam. Hasilnya, kini pasokan informasi menjadi lebih akurat, cepat, tepat, dan lengkap. Sebagai imbasnya, mereka menjadi lebih mampu memuaskan pelanggan, terutama karena jasa dan layanan yang lebih cepat. Lany berharap, dengan penerapan TI, pihaknya akan mampu meningkatkan efisiensi, sehingga mempermudah perusahaan mencapai target.
Masih menurut Lany, investasi TI yang dilakukan selama ini membawa dampak cukup besar bagi perusahaannya. Bagian-bagian yang paling merasakan manfaatnya adalah divisi penjualan, pemasaran, logistik, dan distribusi. Cuma, sayangnya, manajemen Lion Sperindo hingga kini belum pernah menghitung seberapa besar pengaruh TI terhadap peningkatan pendapatan. “Secara langsung masih belum, tetapi secara tidak langsung sudah,” ujar Lany.
Agar pendayagunaan TI-nya efektif, budaya perusahaan sangat menentukan. Lion Superindo kini memiliki proyek yang bernama Smart Retailing. Proyek ini dilakukan oleh sejumlah tim yang tugasnya menganalisis apa yang bisa dilakukan untuk menciptakan efisiensi. Misalnya, menyangkut efisiensi kegiatan operasional. Proyek ini sejalan dengan tujuan aplikasi TI di Lion Superindo, yakni untuk memberikan jasa yang hemat biaya dan berkualitas. Selain itu, dengan manajemen informasi yang baik, mereka bisa merespons perubahan bisnis dengan cepat. SATRIANI ARI WULAN
|
|
|
WartaEkonomi E-Company Award 2 Penghargaan Khusus Best Performance Improvement PT Astra Agro Lestari Tbk.
Manajemen TI Astra Agro fokus pada tiga pilar: manusia, proses, dan teknologi Hasilnya, kinerja usaha melesat.
Manajemen PT Astra Agro Lestari Tbk. boleh bangga. Mereka berhasil membuktikan diri sebagai salah satu yang terbaik dalam hal performance improvement. Investasi TI di anak usaha Grup Astra ini terbukti berhasil meningkatkan kinerja secara langsung. Manfaat TI bukan hanya bersifat maya, tetapi benar-benar bisa diukur secara ekonomi.
Perusahaan dengan luas kebun lebih dari 200.000 hektar ini memang cukup agresif memanfaatkan TI. Mereka menerapkan sejumlah sistem aplikasi TI canggih, seperti Geography Information and Management System (GIMS), Plantation Management System (PMS), dan Enterprise Resources Planning (ERP). Tahun lalu saja Astra Agro menghabiskan belanja TI sampai Rp37,58 miliar, dengan 80%-nya untuk solusi ERP.
Pengembangan TI di Astra Agro, menurut Awan Karnajaya, chief information officer Astra Agro, bertujuan membangun kompetensi inti melalui tiga pilar utama: manusia, proses, dan teknologi. Kini, daya saing bisnis sawit mengerucut pada faktor produktivitas, penjualan, operational excellence, dan manajemen biaya yang efisien. “TI menjadi business process enabler end to end, terutama unit bisnis strategis,” ungkap jebolan Cleveland Institute of Technology, AS, itu.
Manajemen TI Astra Agro pada intinya mengolah beragam informasi dan indikator kinerja yang terkait tiga faktor: manusia, proses, dan teknologi. Ini sesuai visi mereka menjadi perusahaan agro yang paling inovatif dan produktif di seluruh dunia. “Kalau produk, lahan, mesin, dan sistemnya sudah sama, satu-satunya nilai tambah terletak pada people dan proses,” kata Awan yang mantan CIO PT United Tractors Tbk. itu.
Hasilnya ampuh. Kini manajemen bisa dengan mudah mengontrol semua proses dan kegiatan usahanya. Setiap saat mereka bisa mengendalikan dan mengawasi aktivitas-aktivitas penting, seperti perawatan, pemupukan, pemanenan, produksi, dan instalasi kebun. Manajemen informasi yang baik mempermudah mereka membuat perencanaan, mengambil keputusan, serta memantau kondisi dan kinerja kebunnya lebih teliti.
Strategi TI yang fokus pada kompetensi inti akhirnya meningkatkan kinerja usaha secara langsung. Lihat saja peningkatan produktivitas kebunnya selama ini. Tahun 2006 produktivitasnya mencapai 3,6 juta ton tandan buah segar (TBS). Angka ini melonjak signifikan dibandingkan empat tahun silam yang 2,3 juta ton TBS. Lonjakan ini tercermin pula pada tingkat produksi CPO-nya yang mencapai 917.000 ton. Padahal, empat tahun sebelumnya jumlahnya baru mencapai 533.000 ton.
PRANANDA HERDIAWAN
***
Special Achievement for Performance Improvement PT International Nickel Company Tbk.
TI untuk Naikkan Produksi
Produsen nikel terbesar di Indonesia itu memanfaatkan TI untuk meningkatkan produksi dan memperlancar proses bisnis. Ini akan berujung pada peningkatan pendapatan.
Banyak manfaat yang diperoleh PT International Nickel Company Tbk. (Inco) setelah menerapkan solusi yang berbasis teknologi informasi sejak 1991. Irmanto, manajer TI Inco, memaparkan TI memegang peranan penting dalam menciptakan computing environment yang terpercaya serta integrated leadership. Irmanto percaya, sejak awal penerapannya, dua hal ini akan mendatangkan nilai tambah bagi bisnis perusahaan secara berkesinambungan.
Kini, Inco tengah memfokuskan penerapan TI-nya untuk meningkatkan produksi. Selain itu, TI juga diharapkan mampu memperlancar proses bisnis, sehingga pengambilan keputusan bisa lebih lancar, cepat, dan tepat. Guna memastikan aplikasi TI sesuai dengan kebutuhan perusahaan, Inco membentuk IT steering committee. Komite inilah yang akan bertemu setiap enam bulan sekali untuk merancang arah dan perkembangan operasional dan investasi di bidang TI. “Mereka mengambil peran dalam siklus direction, planning, acquisition, delivery and support, dan monitoring yang ada di TI,” ungkap Irmanto.
Agar TI berperan optimal, perusahaan beraset Rp16,5 triliun (per September 2006) dan memiliki 3.410 karyawan ini mengalokasikan 2% dari total anggarannya untuk aplikasi TI. Bujet itu, di antaranya, digunakan untuk penerapan aplikasi Business Intelligence. “Aplikasi ini penting untuk menunjang proses pengambilan keputusan dan sebagai agen pengubah proses bisnis guna mendatangkan keunggulan kompetitif bagi perseroan,” terang Irmanto. Lewat aplikasi itu pula perusahaan penghasil nikel setengah jadi ini berharap dapat merespons perubahan bisnis, yang nantinya disesuaikan dengan strategi perseroan.
Aplikasi TI juga menawarkan cara-cara baru berkomunikasi bagi internal perusahaan, seperti penerapan executive support pada level manajemen puncak. “TI kami gunakan untuk memberikan layanan informasi pada top level management,” ungkap Irmanto. Di sisi lain, TI juga membantu kelancaran komunikasi antardepartemen di Inco. Berkat peran TI, komunikasi internal menjadi lebih lancar dan hemat biaya. Ini jelas meningkatkan keuntungan perusahaan.
Kini, segenap lini di Inco menjadi amat tergantung pada TI. Beberapa divisi yang mengaku memperoleh keuntungan terbesar berkat dukungan TI adalah logistik dan distribusi, administrasi dan keuangan, serta SDM. Ketergantungan tersebut membuat Inco perlu mengembangkan sistem yang dapat memastikan jasa dan infrastruktur TI-nya mampu bertahan dan pulih jika terjadi kegagalan akibat kesalahan, serangan, dan bencana. Jika ini berhasil diamankan, Irmanto yakin, pada gilirannya, aplikasi TI ini juga akan menguntungkan pelanggan Inco.
GLORIA HARAITO
***
Special Achievement for IT Innovation Citibank, N.A.
TI untuk Kepuasan Pelanggan
Citibank memanfaatkan TI untuk meningkatkan kualitas layanan dan menjaring nasabah baru. Selain itu, TI juga mereka gunakan dalam inovasi produk.
Bagi Citibank, kepercayaan nasabah merupakan aset paling berharga. Maka, untuk memelihara kepercayaan tersebut, Citibank tak henti-hentinya berupaya meningkatkan kualitas pelayanan. Selain itu, peningkatan kualitas layanan juga menjadi cara ampuh bagi Citibank untuk menjaring nasabah-nasabah baru. Bagaimana cara Citibank meningkatkan kualitas layanannya?
Mereka mengedepankan inovasi berbasis teknologi informasi. Di Citibank, aplikasi TI telah mereka lakukan sejak 1982, berupa sistem TI untuk core banking. Direktur Teknologi dan Perbankan Korporasi Citibank, Umang Moondra, memaparkan, “Salah satu bentuk penerapan TI di Citibank adalah online credit card application,” ungkap Umang. Aplikasi berbasis internet, yang pertama diterapkan di Indonesia, ini memungkinkan calon nasabah mengajukan permohonan kartu kredit hanya dengan mengunjungi website Citibank dan mengisi formulirnya di sana. Persetujuan diperoleh dalam waktu 60 menit. Citibank juga menerapkan aplikasi pembayaran online real time. Melalui aplikasi ini, nasabah dapat membayar tagihan kartu kredit dari 11.000-an ATM yang menjadi mitra mereka. Ke depan, Citibank akan mengembangkan teknologi original character recognition, yang bisa mengenali tulisan tangan nasabah pada formulir penyetoran.
TI juga memungkinkan Citibank mengembangkan produk/jasa baru. Salah satu produk berbasis TI yang dikembangkan Citibank adalah Citibank One Bill. Lewat produk ini, pemegang kartu kredit Citibank bisa membayar tagihan telepon, listrik, dan PDAM melalui Citibank. Lalu, produk paling anyar adalah kemitraan Citibank dengan PT Pos Indonesia untuk memasarkan Personal Loan Citifinancial, yang memungkinkan masyarakat mengajukan dan menerima pinjaman di kantor pos. Berkat peran TI, calon konsumen dapat mengetahui permohonan kreditnya ditolak atau disetujui hanya dalam waktu tiga menit.
Selain itu, TI juga digunakan Citibank untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi lewat penerapan e-Workplace yang berbasis web. e-Workplace ini memiliki banyak aplikasi, seperti Resource Reservation, yang memungkinkan karyawan memesan mobil, ruang rapat, proyektor, atau apa saja melalui intranet. Selain itu, untuk memuat segala sesuatu yang terkait dengan karyawan, mulai dari biodata, riwayat pekerjaan, job desk, hingga riwayat pelatihan, Citibank memiliki Employee Portal.
Bagi Citibank, tutur Umang, pemanfaatan TI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Selain itu, TI dan bisnis merupakan mitra yang interdependen dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manfaat TI sudah dibuktikan Citibank dalam tiga tahun terakhir ini. Pertumbuhan rata-rata nasabah via online mencapai 35% per tahun, lalu pertumbuhan transaksinya juga rata-rata mencapai 30%.
SATRIANI ARI WULAN
***
Special Achievement for Knowledge Development PT Vico Indonesia
Kuncinya di Pengetahuan
Vico menjadikan TI sebagai tools untuk mengembangkan knowledge development dan knowledge management system. Semuanya diharapkan mendukung kinerja bisnis.
Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Berpengalaman memanfaatkan teknologi informasi sejak 1985, kini PT Vico Indonesia melangkah jauh dengan menjadikan TI sebagai tools untuk knowledge development yang akan mendukung operasional bisnis. Meski begitu, jajaran manajemen Vico senantiasa menyelaraskan penerapan TI dengan tujuan bisnis, yakni meningkatkan pendapatan.
Hufadil As'ari, manajer ICT PT Vico Indonesia, memaparkan, “Kami menerapkan TI untuk menyederhanakan proses bisnis, melakukan otomatisasi proses, dan memberikan laporan yang akurat dan tepat. Efektivitas ini mempunyai pengaruh strategis terhadap kinerja bisnis.” Pada akhirnya, proses ini akan menciptakan efisiensi biaya dan meningkatkan produktivitas.
Lebih jauh Hufadil menuturkan TI berperan penting sebagai penyedia informasi yang terintegrasi. Lantaran penting, manajemen Vico tak segan-segan mengalokasikan 6%–8% dari total anggaran operasional untuk mengembangkan sistem TI. Beberapa di antaranya dipakai untuk pengadaan sistem aplikasi, jaringan, infrastruktur, telekomunikasi, komunikasi, serta hardware dan software. Di Kalimantan Timur, misalnya, perusahaan yang memfokuskan bisnisnya pada produksi minyak dan gas bumi ini membangun jaringan telekomunikasi sendiri. Ini lantaran lokasinya yang terpencil, dan kala itu tidak ada pemasok yang mau dan sanggup membangun fasilitas telekomunikasi di sana.
Di samping itu, Vico menyadari budaya perusahaan sangat membantu dalam penerapan TI untuk pencapaian tujuan bisnis. Perusahaan yang mempekerjakan 850 karyawan tetap dan 3.000 karyawan kontrak ini menerapkan kontrak kinerja pada setiap divisi. Pada masing-masing divisi, konsep ini kemudian diterjemahkan menjadi kontrak kinerja individu. “Dengan cara inilah semua kegiatan menjadi sinergi, sehingga menggugah karyawan untuk berprestasi dengan cara seefisien mungkin,” lanjut Hufadil. Hasilnya, strategi ini mampu menciptakan kolaborasi dan kontribusi yang sangat besar bagi kinerja perusahaan.
Di sini, TI memainkan peran kunci. Misalnya, perusahaan mengembangkan executive dashboard secara online dan mobile-virtual office. Dengan mobile-virtual office, karyawan dapat bekerja tanpa terikat waktu dan lokasi. Selain itu, TI pun digunakan untuk memaksimalkan layanan pelanggan. Mereka menyediakan layanan online procurement dan portal perusahaan yang terintegrasi dengan Knowledge Management System. Sementara itu, untuk memperkecil risiko transaksi, Vico mengantisipasinya dengan mengerahkan Intelligence System dalam analisis finansial. Inilah yang memungkinkan manajemen melacak hambatan dalam setiap transaksi.
GLORIA HARAITO
|
|
|
Mengatasi Tantangan Penurunan Pertambangan dan Energi Peringkat I PT Aneka Tambang Tbk.
Aplikasi beragam solusi TI membuat arus informasi di Antam kian likuid. Ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja.
PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) adalah produsen nikel, emas, dan bauksit dengan wilayah operasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Kegiatannya mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan, hingga pemasaran sumber daya mineral. Dengan luas wilayah operasi yang begitu tersebar, bagaimana Antam bisa meningkatkan pendapatan seraya sekaligus menurunkan biaya operasi per unit produksi?
Untuk menurunkan biaya, perusahaan yang go public sejak 1997 ini dituntut bisa beroperasi secara lebih efisien dan produktif. Caranya, dengan melakukan inovasi berbasis teknologi informasi (TI). Untuk itulah perseroan dalam beberapa tahun terakhir menerapkan berbagai aplikasi guna menunjang bisnisnya, seperti Business Intelligence, data warehouse, key performance indicators (KPI), dan Balanced Scorecard.
Hasilnya, arus informasi menjadi makin likuid. Informasi bisa diakses dengan mudah dan laporan bisa lebih cepat sampai. “Dalam hitungan menit, segala informasi sudah dapat diterima untuk kelancaran bisnis,” ujar Kurniadi Atmosasmito, direktur keuangan PT Antam. Manfaat lainnya, manajemen informasi pun menjadi lebih baik.
Sementara itu, penerapan KPI dan Balanced Scorecard membuat kinerja manajemen kian meningkat. Perseroan juga sudah mengoptimalkan infrastruktur wide-area network (WAN) dan mengintegrasikan beberapa sistem yang ada dengan sistem Enterprise Resources Planning (ERP). Aplikasi beberapa solusi TI ini pada dasarnya bertujuan menunjang pencapaian visi perusahaan. Meski begitu, dalam setiap investasi TI-nya, mereka selalu menggunakan analisis biaya dan manfaat.
Agar pemanfaatannya maksimal, mereka mengidentifikasi kebutuhan TI-nya dalam jangka panjang dan ditinjau secara berkala. Untuk itu, manajemen Antam membentuk satuan tugas TI yang berfungsi merekayasa ulang proses bisnis guna mencapai tingkat efisiensi maksimal. Mereka terus menyederhanakan dan mengefisienkan proses bisnis serta meningkatkan pengawasan melalui sistem TI. “Melalui langkah-langkah tersebut diharapkan pendapatan meningkat,” ujar Kurniadi.
Hasilnya? Perusahaan beraset Rp7,2 triliun ini berhasil meningkatkan kinerja usahanya dalam setahun terakhir. Pada 2006 Antam membukukan pendapatan Rp5,6 triliun, melonjak 73% dibandingkan 2005. Lonjakan ini terutama disebabkan kenaikan harga nikel dunia. Peningkatan omzet ini berdampak langsung terhadap laba bersih yang Rp1,5 triliun, naik 84% dibanding 2005.
Penggunaan TI terbukti memberi manfaat ekonomis kepada antam. Lihat saja, sepanjang tahun lalu Antam berhasil meningkatkan efisiensi usahanya. Ini tercermin dari rasio efisiensi operasional yang menurun. Kalau tahun 2005 angkanya 9,9%, pada 2006 menjadi 6%. Penurunan sebesar 40% ini dipicu oleh peningkatan pendapatan sebesar 73%, sementara beban usahanya hanya naik 4%.
SATRIANI ARI WULAN
***
Peringkat II PT Indonesia Power
Bak Remote Control
Pemanfaatan TI memudahkan Indonesia Power mengontrol semua pembangkitnya dari jarak jauh. Inovasi ini membuat IP mampu menghemat biaya.
PT Indonesia Power (IP) mempunyai peran sangat strategis. Perusahaan ini harus memasok listrik 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365 hari setahun, secara terus-menerus agar pasokan listrik terpenuhi. Untuk menunjang kelancaran pasok arus listrik, anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara ini sangat membutuhkan dukungan TI, mulai dari aspek pemeliharaan, management review, keuangan, SDM, hingga layanan pelanggan. “TI memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan perusahaan,” tegas Budi Santoso, wakil presiden sistem informasi PT Indonesia Power. Selain untuk menciptakan efisiensi di sejumlah proses bisnis, TI juga diandalkan untuk meningkatkan kinerja operasional dan pengelolaan pembangkit listriknya.
Saat ini IP mengelola dan mengoperasikan delapan unit bisnis pembangkit listrik. Di antaranya, pembangkit listrik di Tanjung Priok, Suralaya, Saguling, Kamojang, Mrica, Semarang, Perak-Grati, dan Bali. Untuk meningkatkan kinerja operasional delapan pembangkit listrik itu, IP membutuhkan solusi yang dapat mempercepat sistem deteksi teknis terhadap masing-masing pembangkit, seraya sekaligus memudahkan koordinasi antarpembangkit satu sama lain.
Untuk itu, IP dalam satu tahun terakhir ini mengembangkan inovasi TI berupa sistem untuk mengontrol pembangkit dari tempat lain. Dengan memanfaatkan sistem TI terpadu, IP berhasil membuat program aplikasi yang mampu melakukan pemantauan seluruh pembangkit listriknya dari jarak jauh. Hasilnya sangat bermanfaat. Biaya pemantauan pembangkit listrik kini bisa sangat hemat. Dahulu, untuk pemantauan, perusahaan harus datang langsung ke masing-masing pembangkit, menelepon, dan melakukan perubahan parameter-parameter pembangkit secara manual. Kini, dengan adanya inovasi TI, manajemen tak perlu beranjak dari kursi untuk melakukan kegiatan operasional sehari-hari.
Melalui penerapan solusi Enterprise Resources Planning (ERP), perseroan berhasil mengintegrasikan seluruh program aplikasi secara terpusat. Setiap tahun, perusahaan beraset Rp50 triliun ini mengalokasikan 2% dari total anggaran untuk biaya pengembangan TI. Perseroan tahun lalu membukukan pendapatan Rp28,4 triliun, naik dibandingkan 2005 yang Rp21,9 triliun.
IP juga membangun layanan e-procurement dan e-auction. Cara pengadaan berbasis elektronik ini terbukti berhasil menekan harga pembelian. Sementara itu, penggunaan aplikasi manajemen aset bermanfaat meningkatkan efisiensi serta menurunkan biaya produksi dan pemeliharaan. Salah satu inovasi IP, yakni penggunaan peranti Personal Digital Assistance (PDA) untuk memantau realisasi kinerja operasional. Perseroan juga berhasil mengintegrasikan aplikasi anggaran dengan pemeliharaan dan keuangan.
SATRIANI ARI WULAN
***
Peringkat III PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk.
Sudah Cepat, Irit Pula
Selain memperbaiki proses bisnis, pemanfaatan TI di PT BA berhasil menciptakan efisiensi. Namun, mengapa belum diukur dampaknya bagi pendapatan?
Bagi produsen batu bara kelima terbesar di Indonesia ini, menyiapkan segala kebutuhan infrastruktur yang mendukung peningkatan efektivitas, efisiensi, serta produktivitas segmen usahanya adalah mutlak. Sebab, aktivitas PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. (PTBA) tidak hanya melakukan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan, dan perdagangan, tetapi lebih luas dari itu. Perseroan juga memiliki proses bisnis berupa pengolahan lebih lanjut atas hasil produksi pihak lain, mengoperasikan dermaga dan pelabuhan khusus batu bara, baik untuk keperluan sendiri maupun pihak lain, dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap serta pemberian jasa konsultansi di bidang industri pertambangan batu bara.
Menimbang kompleksnya proses bisnis di atas, manajemen PTBA memandang pentingnya mengaplikasikan berbagai solusi yang berbasis TI untuk mendukung kinerja perusahaan. Inovasi TI tersebut diharapkan mampu memberikan informasi yang cepat, seperti jumlah persediaan dan data penjualan, sehingga mempercepat pengambilan keputusan. “Jika sistem TI perusahaan tidak bagus, kinerja perusahaan otomatis akan terganggu,” ujar Dono Boestami, direktur keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. Misalnya, jika sampai terjadi keterlambatan informasi pengiriman bahan baku, hal tersebut tentu akan berpengaruh pada sistem produksi.
Perseroan yang berdiri pada 2 Maret 1981 ini dalam setahun terakhir telah mengembangkan jaringan nirkabel, aplikasi Ellipse, pembangunan ruang pelatihan yang berbasis TI, jaringan Virtual Private Network (VPN) MPLS Recovery Jakarta-Tanjung Enim, Disaster Recovery Center, dan IT Governance Ready. Hasilnya, biaya operasional Bukit Asam pun bisa dihemat. “Industri bisnis kami sedang booming, dan perusahaan sedang berkembang pesat. Kalau kami tidak melakukan inovasi TI, maka perusahaan akan ketinggalan,” tegas Dono.
Menurut Dono, penggunaan sistem TI di Bukit Asam lebih bertujuan untuk menjamin kelangsungan proses bisnis perusahaan. Strateginya, dengan memastikan bahwa setiap investasi TI-nya selalu sesuai dengan mekanisme tata pamong TI yang baik. Mereka perlu menyelaraskan strategi TI-nya dengan strategi bisnisnya, menghasilkan nilai yang terukur, dan dikontrol secara akurat. Penggunaan aplikasi manajemen aset, diakui Dono, bertujuan meningkatkan ketersediaan alat operasional sesuai target. Sistem ini sekaligus memberikan kecepatan layanan dan ketersediaan suku cadang secara efisien. SATRIANI ARI WULAN
|
|
|
WartaEkonomi E-Company Award 2 "Si Bule" Berbisnis Syariah
Asuransi Peringkat I PT Asuransi Allianz Utama Indonesia
Inovasi e-insurance syariah memungkinkan satu tenaga administrasi melayani multiple line bisnis syariah sehingga tak diperlukan adanya skill khusus.
Tren bisnis berbasis syariah melanda dunia. Asuransi Allianz, berdiri sejak 1890 di Berlin, Jerman, tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sedari April 2006 mereka meluncurkan produk e-insurance syariah di Indonesia. ”Inovasi TI menunjang channel distribusi baru kami, yakni asuransi syariah,” papar Victor Sandjaja, CEO PT Asuransi Allianz Utama Indonesia.
Produk asuransi syariah Allianz memang sangat ditopang oleh peran TI. Berkat TI, kini satu tenaga administrasi bisa melayani multiple line di bisnis syariah. ”Ini berarti tidak dibutuhkan specific skill,” kata Erwin Purwadarma, CIO PT Asuransi Allianz Utama Indonesia. Selain itu, penerbitan polis yang tadinya memakan waktu lima menit, kini menjadi tiga menit. Lalu, penyelesaian proses klaim dipatok maksimal tiga hari kerja.
Menurut Erwin, aplikasi TI mampu mereduksi sejumlah proses bisnis di bagian underwriting dan reasuransi. TI juga membuat integrasi dengan e-back office syariah menjadi lebih baik. Alhasil, total time to market bisa dipersingkat, jika dibandingkan dengan e-insurance konvensional, dari yang semula tujuh bulan menjadi tiga bulan.
Aplikasi TI bagi Allianz tak hanya bermanfaat mempercepat respons ke klien, tetapi juga untuk aspek manajerial dan portal korporat. Sejatinya, perusahaan dengan 289 karyawan ini sudah mengaplikasikan TI sejak 1996. “Kami menjadikan strategi TI sebagai bagian dari strategi bisnis,” ucap Victor. Nantinya, tiap kuartal, IT steering committee akan melakukan review berkala, memastikan implementasi TI sesuai dengan strategi bisnis.
Lebih lanjut Victor memaparkan, TI mempermudah manajemen menganalisis dampak bisnis dan mengidentifikasi risiko secara terpusat. ”Aspek kritis dan dampak bisnis dapat segera kami ketahui, termasuk risiko bisnis dari sebuah kejadian atau bencana, secara online,” kata Victor. Ini, imbuhnya, memudahkan dia dan jajaran manajemen untuk mengambil keputusan.
Sementara itu, bagi para broker/agen sebagai ujung tombak asuransi,Allianz memberi penawaran menarik. ”Pembayaran komisi tak lebih dari satu minggu,” kata Erwin. Tak bisa dimungkiri, divisi pemasaran memperoleh keuntungan terbesar dari implementasi TI, karena mereka jadi bisa memberi layanan lebih gesit kepada para nasabah. Kini, berkat gesitnya para agen, Allianz memasang target menjadi ”Top 5 General Insurance”. Per akhir 2006, Allianz mencatat pendapatan premi (gross written premium, GWP) Rp1,3 triliun, tumbuh 57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
| |